Dampak Serius Sampah Makanan terhadap Lingkungan, Ekonomi, dan Kemanusiaan

Sampah makanan (food waste) merupakan masalah global yang memiliki dampak sangat serius, baik dari segi sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Menurut laporan UNEP, pada tahun 2022 sebanyak 1,05 miliar ton makanan terbuang di seluruh dunia, yang setara dengan hampir 19% dari total produksi pangan global. Ironisnya, pada waktu yang sama 783 juta orang masih menghadapi kelaparan kronis.

Dampak lingkungan dari sampah makanan juga tak bisa diabaikan. Produk pangan yang terbuang menyumbang emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar — food loss dan food waste diperkirakan menghasilkan sekitar 8–10% dari total emisi global. Selain itu, menurut laporan FAO/UNEP, produksi makanan yang sia-sia itu turut menyia-nyiakan sumber daya alam seperti air (sekitar 250 km³ air per tahun) dan lahan pertanian sangat luas — mencapai 1,4 miliar hektar, yang setara hampir sepertiga dari total lahan pertanian dunia.

Di tingkat nasional, khususnya di Indonesia, masalah ini juga sangat besar. Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa sekitar 39% sampah yang dihasilkan di Indonesia adalah sisa makanan. Selain itu, potensi kerugian ekonomi akibat food waste di Indonesia diperkirakan bisa mencapai Rp 107 triliun hingga Rp 346 triliun per tahun.

Secara etis, jumlah sampah makanan ini menimbulkan paradoks yang sangat menyakitkan: di satu sisi, sebagian besar dari kita membuang makanan, sementara di sisi lain, jutaan orang masih kelaparan. Kesenjangan ini menunjukkan kegagalan dalam distribusi dan pemanfaatan pangan secara adil.

Dengan data-data tersebut, jelas bahwa sampah makanan bukan hanya soal boros atau pemborosan — ini juga soal keadilan sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Upaya pengurangan food waste sejak hulu (produksi) hingga hilir (konsumsi) sangat penting untuk mengurangi dampak negatifnya yang sangat besar.